Bobby Moresco – Mengejar Mimpi

Bobby Moresco dibesarkan di New york’s Hell Kitchen. Ia lahir dari keluarga pekerja kelas menengah yang tinggal di daerah Barat Manhattan. Hell’s Kitchen berada di dekat Broadway, jalan banyak artis top menuju dunia bisni hiburan. Bobby remaja tiba-tiba jatuh cinta pada pekerjaan seni yang sering ditampilkan di Broadway.

Bagi remaja yang lahir dan tumbuh di Hell’s Kitchen, menjadi actor bukanlah sebuah pilihan yang ‘normal’. Mereka dilahirkan untuk menjadi polisi, buruh bangunan, atau bahkan criminal. Bobby jadi malu sendiri dengan cita-citanya ini. Ia tidak member tahu siapapun, bahkan pacarnya dan orangtuanya.

Bobby diam-diam mengikuti sebuah sekolah acting dan kemudian mulai mengikuti berbagai casting. Namun, peran yang didapatkannya hanya menghasilkan total $2000. Masih jauh dari harapannya untuk berhasil di dunia seni peran. Meski begitu, pekerjaan acting adalah hasrat pribadinya. Jadinya ia tetap menikmati.

Bobby Moresco kemudian mengejar mimpinya ke Hollywood. Di situ ia bekerja menjadi sopir taksi dan pada malam hari menjadi bartender. Ayahnya tidak senang melihat kondisi tersebut.
“Carilah kerja! Mau diberi makan apa anak dan istrimu!” nasihat sang Ayah.

Kemudian,  pada 1983, adiknya dibunuh oleh gangster Hell’s Kitchen. Terinspirasi oleh kepedihannya, Bobby kemudian kembali ke Hell’s Kitchen dan mulai menulis sebuah cerita tentang keadaan di sana. Hasilnya Half-Deserted Streets yang dipentaskan pada salah satu panggung drama setempat. Seorang produser Hollywood sempat menontonnya dan kemudian meminta Bobby Moresco untuk menjadikannya sebuah naskah film.

Reputasinya mulai menanjak dan kembali ke Hollywood. Di sanalah kemudian ia berteman dengan Paul Haggis, seorang sutradara yang juga sesekali menulis scenario film. Suatu hari Paul mengajaknya menulis sebuah  scenario tentang keadaan social Amerika setelah 11 September. Mereka bekerja bareng menulis sebuah scenario film yan menampilkan konflik dan berbagai dampak social yang dirasakan oleh masyarakat Amerika yang terdiri dari berbagai ras dan golongan setelah serangan teroris 11 September.

Skenario yang bagus menurut mereka ternyata tidak menurut para produser. Berkali-kali naskah itu ditolak. Moresco yang sedang kekurangan uang haris menjual rumahnya untuk membiayai hidupnya selama naskah itu belum terjual. Akhirnya ada seorang produser independen yang tertarik membiayai film tersebut. Tapi dana yang disediakan sangat terbatas. Moresco kemudian meminta pembayarannya ditunda saja sampai film tersebut ditayangkan di bioskop. Bobby Moresco sukses dengan scenario film berjudul “Crash” tersebut. Film yang susah payah ia tawarkan ke produser-produser terkenal itu berhasil meraih tiga piala Oscar untuk Film Terbaik, Skenario Terbaik, dan Editing Film Terbaik.

“Kalau kau menginginkan sesuatu dalam hidupmu, jangan pikirkan masalah yang muncul. Pikirkan saja bagaimana cara mendapatkannya.”
Bobby Moresco, penulis skenario film Crash.